Kategori
Music

Ciptakan 800 Lagu, Didi Kempot Bapak Patah Hati Nasional

Ciptakan 800 Lagu, Didi Kempot Bapak Patah Hati Nasional

Ciptakan 800 Lagu, Didi Kempot Bapak Patah Hati Nasional – Beberapa penggemar kondang Indonesia bisa bertahan sampai beberapa dekade mendapat penggemar setia. Satu di atas adalah Didi Kempot yang sekarang juga digemari kaum milenial.

Nama penyanyi campursari Didi Kempot mengambil asing di telinga masyarakat Indonesia. Pria asal kota Solo ini bahkan mencapai julukan Bapak Patah Hati Nasional atau Bapak Hati Patah sebab lagu-lagunya yang bertema patah hati.

Didi Kempot yang bernama asli Didi Prasetyo lahir di Solo 31 Desember 1966 dikenal sebagai penyanyi campursari.

Banyak lagunya populer di kalangan masyarakat Jawa dan Indonesia umumnya, bahkan di Suriname antara lain berjudul Cidro, Sewu Kutho, Stasiun Balapan dan Suket Teki.

Putra mendiang pelawak Ranto Edi Gudel

Putra mendiang pelawak Ranto Edi Gudel, yang sekaligus adik kandung almarhum pelawak Mamiek Podang ini sebagai penyanyi campursari lawas tetapi semakin populer di era milenial. Tembang-tembangnya semakin mengundang anak muda.

Melansir tayangan Ngobam (Obrolan Bareng Musisi) di kanal Youtube Gofar Hilman, penyanyi berambut gondrong dan sering memakai blangkon (iket) beskapan lengkap rupanya sudah bisa dilihat di 700-800an lagu.

“Total semua lagu ada maksimum Mas Didi?” tanya Gofar Hilman seperti dikutip Media. “Wah lali aku (lupa saya), yah mungkin ada 700 hingga 800 lagu,” ungkap Didi Kempot.

Pernyataan itu langsung menyatakan tepuk tangan dan sorak meriah dari sekitar 1.500 sadboi dan sadgirl yang tergabung dalam Sobat Ambyar, sebutan untuk penggemar Didi Kempot.

Kenapa ada nama Kempot di belakang Didi? Mungkin sebagian besar orang masih belum mengetahuinya. Dia mengawali karir sebagai tunangan. Kempot singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar.

“Kelompok Pengamen Trotoar. Ngamen di jalanan. Sebelum kenal rekaman, saya ngamen di Keprabon dulu kali pertama. Di Solo ada warung lesehan nasi liwet di Keprabon. Habis itu kita hijrah ke Jakarta coba-coba adu nasib. Kumpul di Bundaran Slipi dulu.

Di situlah kita buat komunitas, dan timbulah Kelompok Pengamen Trotoar (Kempot), “terang Didi Kempot.